-->
zORB44u1Y5Szogk9hvRg5anbZDydcDDjseaSpgOw

Kenormalan Baru yang Tak Baru-Baru Amat


Kenormalan Baru

Hari ini saya kebagian jadwal ngantor lagi. Ini kali kedua sejak awal diberlakukan PSBB. Terakhir saya ngantor pada pertengahan Maret, beberapa hari sebelum diberlakukan PSBB. Itu pun saya izin pulang lebih cepat. Satpam di lobi meminta saya mengisi semacam berita acara karena layar termometer laser yang ditembakkan ke jidat saya menunjukkan angka di atas 98,78 derajat Fahrenheit.

Sejak itu, saya jarang ke luar pagar rumah. Saya keluar pagar hanya untuk membeli sayur makanan kura-kura, mengambil uang di ATM, atau mengantar isteri periksa ke klinik. Kami pun memberi pengertian pada Jagoan bahwa kita sedang memasuki masa-masa sulit. Pergerakan kita dibatasi. Ia juga sempat merasakan imbasnya. Ketika distribusi bahan pangan terhambat, Jagoan sempat tidak bisa mendapatkan susu moka favoritnya.

PSBB pun pada akhirnya mulai dilonggarkan secara bertahap. Pemda DKI, yang sempat galau, memutuskan perpanjangan status PSBB dan menetapkan Juni ini sebagai masa transisi. Beberapa kegiatan sosial dan ekonomi diizinkan kembali bergerak dengan catatan harus mematuhi protokol kesehatan.


Merespon kebijakan tersebut, pada 8 Juni 2020 lalu, ekonom yang juga mantan bos Lapangan Banteng, Muhammad Chatib Basri, menulis arikel berjudul “Ekonomi dalam Normal Baru” di harian Kompas. Menurutnya, mal akan sepi dibanding pasar tradisional, karena kelas menengah atas punya kemewahan untuk memilih antara tinggal atau keluar rumah. Mereka punya tabungan atau non-labour income.

Saya tinggal di perkampungan. Kebanyakan tetangga saya merupakan kelas menengah ke bawah. Saya masih sering melihat tetangga, orang tua dan anak-anak, berkeliaran dan bahkan berkerumun dengan tidak menjaga jarak dan tidak menggunakan masker. Saya kira mereka berkeliaran di luar rumah karena tidak punya pilihan. Mereka tidak punya hiburan atau kegiatan yang bisa menghilangkan kejenuhan di dalam rumah atau kontrakan yang tak terlalu luas untuk mengisolasi diri berbulan-bulan lamanya. 

Hari ini, saya pergi ke kantor dengan naik ojek online. Saya memakai helm milik sendiri. Saya memakai jaket. Di tengah perjalanan saya rutin membersihkan tangan dengan hand sanitizer, karena beberaa kali terpaksa harus berpegangan pada behel jok motor. Tentu saja saya memakai masker. Saya mematuhi protokol kesehatan selama pandemi karena merasa bertanggung jawab atas kesehatan diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Sepanjang perjalanan itu pula saya melihat aktivitas di era kenormalan baru yang ternyata tak baru-baru amat, bahkan cenderung tidak normal. Jangan tanya ada yang tidak pakai masker atau tidak. Orang-orang yang leluasa makan di tepat umum seolah tidak khawatir akan melulari atau tertular korona kerap saya lihat. Anak kecil dibonceng naik motor tanpa menggunakan masker juga banyak. Bahkan, saya sempat melewati anak-anak sedang naik delman keliling kampung tanpa menggunakan masker. Jangankan menggunakan masker, memakai masker pun kalau tidak dalam kondisi darurat, tidak seharusnya anak kecil berkeliaran di luar rumah di saat pandemi.

Saya pun mulai ragu dengan pernyataan Pak Dede bahwa kelas menengah atas akan cenderung diam di rumah karena punya kemewahan untuk memilih diam di rumah. Kenapa? Karena kelas menengah di negara berflower memiliki nama belakang Ngehe. Saya kira, sampai PSBB diperketat lagi, mal, restoran, stadium, dan tempat-tempat keramaian lainnya akan terus dipadati kelas menengah dari gen Ngehe ini. Mereka seolah lupa kalau grafik orang positif korona masih terus menanjak.



Saya kira ini bukan cuma soal faktor ekonomi atau soal berpasrah pada takdir, tapi juga soal kedewasaan. Kalau tetap seperti ini, kita tidak sedang memasuki era kenormalan baru, tapi kembali ke kenormalan yang dulu sebelum ada korona. 
Baca Juga
Abah
Generasi Micinial

Artikel Terkait

Posting Komentar