Melek APBN Tidak Harus Menunggu Mati

Muhamad Rahmat // Jumat, 20 November 2015


Sekarang ini kita hidup di zaman ketika listrik dan internet telah menjadi kebutuhan pokok. Maka tidak heran jika tempat-tempat keramaian publik berlomba untuk menyediakan colokan dan Wi-Fi. Perkembangan teknologi membuat internet menjadi lebih cepat dan lebih murah. Di mana saja kita bisa berinternet ria dengan kecepatan yang sudah memadai. Fenomena inilah yang kemudian memaksa kita untuk hijrah menuju era berikutnya, era konvergensi media.

Di era konvergensi media, penyebaran informasi tidak lagi dimonopoli media konvensional, yang dikuasai korporasi. Media sosial, yang tampil semakin digdaya, sudah mampu bersaing dengan media konvensional. Munculnya banyak bintang baru dari kalangan selebriti media sosial menjadi salah satu indikator betapa kuatnya pengaruh media sosial. Pengakuan media konvensional terhadap kedigdayaan media sosial pun kerap terlihat ketika media konvensional mengangkat trending topic di lini masa media sosial sebagai berita.

Melalui media sosial, termasuk blog, kita bisa menyampaikan apa pun kepada siapa pun yang menjadi pemirsa kita. Sebaliknya, informasi apa pun bisa dengan mudahnya kita dapatkan. Sayang, kita sudah kebablasan. Banjir informasi membuat semua orang berlomba untuk menjadi pakar di semua bidang. Apa pun topiknya, semua orang berlomba untuk menjadi komentator. Entah itu karena ingin menunjukkan bahwa dia tahu dan peduli atau sekadar untuk menunjukkan eksistensi. 

Beberapa tahun terakhir, saya memutuskan untuk diet informasi. Dengan diet informasi saya berhasil membatasi diri untuk tidak mengomentari semua hal. Membatasi bukan berhenti, karena itu saya tetap mengkritisi hal-hal yang ada di sekitar saya. Alasannya sederhana, karena sikap kritis bisa memicu saya untuk mencari tahu. Dengan mencari tahu saya akan berusaha memahami persoalan dengan lebih objektif. Saya pun punya landasan yang kuat jika ingin ikut berkomentar, bukan hanya karena suka atau benci. Tidak terkecuali ketika saya mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang sedang berkuasa. Yang paling hangat adalah APBN 2016

Jika dianalogikan, APBN itu ibarat pohon buah yang sedang berbunga. Pohonnya unik. Iya unik, karena sedikit atau banyak pupuk yang diberikan, pohon itu akan menghasilkan buah dengan jumlah yang tetap. Dalam APBN, pupuk penerimaan negara adalah perkiraan target yang bisa saja tidak tercapai sedangkan belanja adalah komitmen pemerintah yang harus dipenuhi, sehingga ketika pupuk penerimaan mengalami shortfall, buah belanja tidak akan berkurang. Itulah sekelumit dari yang saya pahami setelah mencari tahu dan berusaha untuk melek APBN.

Melek APBN itu penting. Seperti saya bilang tadi, APBN itu ibarat pohon buah yang sedang berbunga. Sayang, pohon itu tenggelam dalam banjir informasi, sehingga tidak semua masyarakat Indonesia mengetahui keberadaan dan bentuk pohon itu. Hanya golongan tertentu saja yang mengetahuinya. Akibatnya, hanya sebagian masyarakat yang bisa ikut mengawal dan menjaga agar buahnya tidak dipetik oleh mereka yang tidak berhak. Itulah kenapa tadi saya bilang melek APBN itu penting.

Sebenarnya, di era sekarang ini, melek APBN bukanlah hal yang sulit. Tidak seperti pada masa pemerintah zaman baheula, ketika penyebaran informasi masih terbatas pada media konvensional. Pemerintah sekarang sudah menggunakan media sosial untuk menyampaikan kebijakan dan program pemerintah dengan jelas dan sederhana, sehingga mudah dipahami masyarakat. Lebih dari itu, pemerintah juga menyampaikan latar belakang dan tujuan pengambilan suatu kebijakan serta urgensinya bagi masyarakat secara lebih personal melalui akun-akun media sosial. Video YouTube berikut contohnya. 


Perubahan lanskap penyebaran informasi, yang seiring dengan perkembangan teknologi informasi, mengharuskan kita mengubah pola untuk mendapatkan informasi. Dalam konteks Indonesia, paradigma tersebut tidak boleh mengabaikan faktor media konvensional yang dikuasai korporasi milik elit-elit politik, yang pastinya sangat berpengaruh terhadap konten beritanya. Sebab itu, ketika mencari informasi mengenai suatu kebijakan pemerintah, semisal APBN 2016, saya memilih untuk mencari langsung melalui situs resmi atau akun-akun media sosial pemerintah.

Kalau kata Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku Blur: Bagaimana Mengetahui Kebenaran di Era Banjir Informasi, "Kebohongan telah menyebar ke seluruh dunia sedangkan kebenaran baru bersiap-siap pakai celana" Maka sudah saatnya kita membuka mata, karena melek APBN tidak harus menunggu mati.

0 komentar