fiscus-wannabe
1889931491244934
Sedang Proses ...

Vaksinasi Bila Mampu


Setiap orangtua tentu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tidak terkecuali dalam hal kesehatan, di antaranya dengan memberikan vaksinasi atau imunisasi agar anak kebal dari penyakit infeksi. Begitu pula kami. Semenjak Jagoan diajak ke Jakarta. Kami mencarikannya dokter dan rumah sakit terbaik di Jakarta. Belakangan saya dikasih tahu teman bahwa rumah sakit tempat Jagoan biasa divaksinasi adalah rumah sakit tempat lahiran anak Kak Ibas, cucu ke dua SBY, yang pada saat itu masih jadi presiden.

Nyatanya, nama besar tidak selalu ekuivalen dengan kepuasan yang diterima pasien. Beberapa minggu lalu Jagoan diajak pulang kampung. Kebetulan bertepatan dengan jadwal imunisasinya. Kami pun mengajak Jagoan untuk vaksinasi di rumah sakit tempatnya dilahirkan. Di sana kami menemukan fakta yang mencengangkan. Ada yang salah dengan jadwal vaksinasi Jagoan selama ini, mulai dari vaksin campak yang sudah diberikan saat Jagoan baru berusia lima bulan hingga vaksin rotavirus dosis pertama yang menjadi sia-sia. 

Vaksin campak semestinya baru diberikan ketika anak berusia sembilan bulan. Karena sampai dengan usia itu, anak masih memiliki kekebalan yang didapatkan dari ibunya. Waktu itu kami gagal fokus karena dokter lebih fokus pada diagnosanya yang menganggap Jagoan telambat berkembang. Sementrara vaksin rotavirus dosis pertama menjadi sia-sia karena sampai usia Jagoan lebih dari 24 minggu dosis ke dua dan ke tiganya tidak juga diberikan. Rugi bandar. Selain rugi karena vaksinasi Jagoan yang tidak maksimal, kami juga rugi karena biaya mahal yang telah kami keluarkan menguap dengan percuma.

***

Vaksinasi yang Dianjurkan


Sejak 2010, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah tidak menggunakan istilah vaksinasi wajib dan tidak wajib, mengingat semua imunisasi sama pentingnya. IDAI karena itu mengganti istilah “vaksinasi tidak wajib” dengan “vaksinasi yang dianjurkan”. Banyak faktor yang membuat biaya vaksinasi yang dianjurkan menjadi sangat mahal. Beberapa di antaranya adalah jasa profesi dokter spesialis, administrasi rumah sakit, dan apotek yang tentu saja tidak mau ketinggalan untuk ikut meraup untung.

Tidak semua vaksin disubsidi pemerintah. Hanya enam vaksin saja yang mendapat subsidi, yakni: BCG, Polio, DPT, Hepatitis B, campak, dan yang terbaru adalah HiB. Vaksin yang disubsidi pemerintah adalah vaksin yang berfungsi mencegah penyakit berat tertentu yang sering terjadi pada anak. Keenam vaksin inilah yang masih sering disebut sebagai vaksinasi wajib atau vaksinasi dasar. Sementara untuk vaksinasi yang dianjurkan, para orangtua harus merogoh kocek lebih dalam, sampai-sampai ada pemeo “vaksinasi bila mampu”.

Sempat terpikir untuk memvaksinasi Jagoan di rumah sakit tempatnya dilahirkan. Tapi dari segia materi, waktu, dan tenaga, hal itu sangat tidak efisien. Untungnya, teman kami di Jakarta memberi tahu tentang Rumah Vaksinasi. Dulu anaknya juga divaksinasi di sana. Akhirnya, kami pun membawa Jagoan ke Rumah Vaksinasi. Kebetulan lokasinya tidak jauh dari kediaman kami. Awalnya, saya datang sendiri untuk mendaftar dan mengambil nomor antrean. Tapi karena antreannya tidak panjang, perawat menyarankan agar saya langsung membawa Jagoan.

Rumah Vaksinasi didirikan oleh dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K)., pengajar sekaligus dokter kardiologi anak FKUI-RSCM. Rumah Vaksinasi didirikannya untuk menyediakan vaksinasi murah. Vaksinasi murah yang dimaksud adalah vaksin dengan harga distributor ditambah dengan jasa medis dokter. Rumah Vaksinasi karena itu bisa menekan harganya menjadi sangat murah, jauh lebih murah dibanding dengan tarif di rumah sakit swasta. Untuk pertama kalinya, saya hanya mebayar seratus lima puluh ribu dan masih dapat kembalian. Meski memang harga vaksinasi sebesar itu pun masih cukup mahal untuk banyak orangtua di Indonesia. 

***

Vaksinasi untuk Semua


Mahalnya harga vaksin telah menjadi persoalan global. Saat ini, biaya untuk memvaksinasi anak 68 kali lebih tinggi dibandingkan tahun 2001. Hampir separuh kenaikan harga tersebut disebabkan harga vaksin pneumonia saja. Beberapa waktu lalu di lini masa saya melihat seorang teman di kantor lama mengganti foto profil Facebook-nya untuk kampanye #AskPharma. #AskPharma adalah sebuah kampanye yang mengajak Pfizer dan GSK untuk menurunkan harga vaksin pneumonia dan meningitis menjadi lima dolar Amerika Serikat untuk anak-anak di negara berkembang, termasuk kawasan Asia Tenggara.

Setiap tahun, hampir satu juta anak di dunia meninggal akibat pneumonia, termasuk di kawasan Asia Tenggara dan Afrika. Vaksin pneumonia sudah tersedia, namun harganya terlampau mahal untuk beberapa negara, termasuk beberapa negara berpendapatan menengah di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Sampai saat ini, baru Pfizer dan GSK saja yang memproduksi vaksin pneumonia. Pfizer dan GSK sudah meraup pendapatan lebih dari 25 miliar dolar AS dari penjualan vaksin ini dalam lima tahun terakhir, sebagian besar dari penjualan di negara-negara kaya.

Produsen vaksin Serum Institute di India sudah menyatakan bahwa mereka akan menjual vaksin pneumonia seharga enam dolar AS (untuk tiga dosis) saat vaksin mereka sudah bisa dijual ke pasar beberapa tahun ke depan. Pada tahun 2013, Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI) merilis evaluasi yang menyimpulkan bahwa harga jual vaksin pneumonia jauh di atas biaya produksinya. Lima dolar Amerika Serikat karena itu dianggap sebagai harga yang layak untuk vaksin pneumonia.

Harga terendah vaksin pneumonia saat ini kurang lebih sepuluh dolar Amerika Serikat untuk tiga dosis lengkap. Namun, vaksin dengan harga ini hanya tersedia untuk GAVI, yang kemudian menyediakan vaksin tersebut bagi negara-negara miskin dan berkembang. Mulai tahun depan, lebih dari 30% negara-negara yang selama ini dibantu GAVI akan diputus bantuan pendanaannya. Negara-negara itu harus membeli vaksin sendiri, tanpa bantuan GAVI, dengan harga yang tidak terjangkau untuk banyak negara.

Ketika harga 10 dolar Amerika Serikat untuk GAVI ini sudah tidak berlaku lagi, harga vaksin pneumonia yang harus dibayar negara-negara tersebut bisa enam kali lebih mahal. Sebagai contoh, Indonesia dan Filipina tidak dapat memberikan vaksin pneumonia untuk seluruh anak. Maka, orangtua di Indonesia dan Filipina yang ingin memvaksinasi anak untuk mencegah pneumonia harus membeli vaksin di dengan harga sekitar 150 dolar Amerika Serikat untuk tiga dosis lengkap.

***

Sebagai mantan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat yang menyandang predikat drop out, saya paham betul makna adagium “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Vaksinasi adalah salah satu bentuk pengamalannya. Dengan vaksinasi, kita sudah melakukan suatu usaha yang jauh lebih baik dan lebih murah daripada melakukan pengobatan setelah jatuh sakit. Untuk itu, harga vaksin yang terjangkau merupakan salah satu koentji untuk bisa memvaksinasi lebih banyak anak. Cukup rukun Islam ke lima saja yang wajib dilakukan jika mampu, tidak dengan vaksinasi.
Jagoan 6180615660639097794

Posting Komentar Blogger Disqus

emo-but-icon

Beranda item

Laman Facebook

Statistik

Langganan Surel

Pemirsa

Kliping